Ahad 26 Apr 2026 21:46 WIB

Psikolog Soroti Nasib Korban Daycare Aresha, Dampak Trauma Balita Bisa 3 Kali Lipat Orang Dewasa

Dukungan dari keluarga besar dinilai penting merawat anak selama masa pemulihan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Warga melintas di dekat penitipan anak atau daycare Little Aresha yang disegel polisi di Umbulharjo, Yogyakarta, Ahad (26/4/2026). Daycare Little Aresha digerebek polisi terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap anak-anak yang dititipkan pada Jumat (24/4), saat ini polisi telah menetapkan 13 tersangka terkait kasus tersebut.
Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Warga melintas di dekat penitipan anak atau daycare Little Aresha yang disegel polisi di Umbulharjo, Yogyakarta, Ahad (26/4/2026). Daycare Little Aresha digerebek polisi terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap anak-anak yang dititipkan pada Jumat (24/4), saat ini polisi telah menetapkan 13 tersangka terkait kasus tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog klinis senior sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, mengatakan anak-anak korban kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, berisiko mengalami trauma berlapis yang dapat berdampak jangka panjang pada kondisi psikologis mereka. Hal ini lantaran balita berada pada tahap perkembangan kognitif yang sangat pesat.

Menurut Ratih, pada fase ini anak mampu memaknai berbagai pengalaman di sekitarnya dengan intensitas yang lebih tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat dibandingkan orang dewasa. Karena itu, pengalaman buruk seperti kekerasan berpotensi memberikan dampak yang berlipat, terutama dalam bentuk trauma.

Baca Juga

"Semua pengalaman tersebut akan berlipat impact-nya kepada anak-anak balita ini, apalagi traumanya," kata Ratih saat dihubungi Republika, Ahad (26/4/2026).

photo
Foto bayi dalam kondisi diikat di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha yang berlokasi di Jalan Pakel Baru Utara, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. - (Republika/ Wulan Intandari)

 

Ratih mengatakan meskipun anak-anak cenderung memiliki sifat pemaaf dan belum sepenuhnya memahami situasi yang dialami, luka psikologis tetap dapat tertanam dalam diri mereka. Luka tersebut dinilai bisa bersifat permanen dengan berbagai bentuk manifestasi yang sulit diprediksi secara pasti.

photo
Kekerasan terhadap anak (ilustrasi). - (Republika/Mardiah)

 

"Manifestasi lukanya juga beragam. Kita bisa memperkirakannya, namun persisnya luka itu akan menjadi bagaimana kita tidak tahu. Mudah-mudahan tidak fatal, apalagi anak-anak itu pemaaf," ujar Ratih.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement