Jumat 24 Apr 2026 20:18 WIB

Lagi, Jembatan Cangar Jadi Saksi: Mengapa Laki-Laki Rentan Memendam Depresi?

Ada tanda-tanda yang biasa muncul ketika pria mengalami depresi atau tekanan mental.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Laki-laki mengalami masalah kesehatan mental (ilustrasi). Dalam banyak kasus, laki-laki cenderung lebih tertutup dalam mengekspresikan emosi dibandingkan perempuan.
Foto: Dok. Freepik
Laki-laki mengalami masalah kesehatan mental (ilustrasi). Dalam banyak kasus, laki-laki cenderung lebih tertutup dalam mengekspresikan emosi dibandingkan perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang pemuda dilaporkan meninggal dunia setelah diduga bunuh diri di Jembatan Kembar Cangar, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (23/4/2026). Ini menjadi kasus kedua dalam satu bulan terakhir, setelah pada 31 Maret pemuda lainnya juga meninggal karena diduga bunuh diri di jembatan tersebut.

Menanggapi hal ini, psikolog pendidikan anak dan remaja Bernadette Cindy, menyoroti kerentanan mental pada laki-laki muda. Menurut dia dalam banyak kasus, laki-laki cenderung lebih tertutup dalam mengekspresikan emosi dibandingkan perempuan.

Baca Juga

Tekanan budaya untuk tampil tangguh dan berhasil di usia muda juga sering kali membuat mereka memendam perasaan, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi psikologis. "Dalam budaya Timur, emosi sering dianggap negatif. Padahal, secara psikologis, emosi itu netral dan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia," kata Cindy saat dihubungi Republika, Jumat (24/4/2026).

photo
Ilustrasi bunuh diri - (Republika/Mardiah)

 

Cindy menjelaskan, setiap individu pasti merasakan emosi dasar seperti senang, sedih, marah, takut, jijik, terkejut dan lainnya. Namun, emosi seperti sedih, marah, dan takut kerap distigma sebagai kelemahan, terutama pada laki-laki. Menangis juga sering dianggap sebagai tanda kelemahan, sementara mengungkapkan kemarahan dinilai tidak pantas.

Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong laki-laki untuk memendam emosinya. Padahal, emosi yang dipendam tidak akan hilang, melainkan dapat menumpuk dan berkembang menjadi stres atau depresi.

"Emosi yang terus dipendam tidak akan hilang, tapi menumpuk dan berpotensi berkembang menjadi stres atau depresi. Ketika sudah tidak tertahankan, kondisi ini bisa meledak seperti bom waktu, salah satunya dalam bentuk tindakan bunuh diri," kata Cindy.

 

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement