REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Kartini 2026 menandai kebangkitan kembali sebuah rumah sakit (RS) yang sempat bersejarah, yang khusus memiliki penanganan kanker di Indonesia. Dharma Nugraha Hospital adalah RS tersebut.
Dharma Nugraha Hospital sempat kehilangan arah ketika pendirinya berpulang pada 2021. Di bawah kepemimpinan putri sulungnya yang juga seorang dokter spesialis THT, dr Sekar Dewi Dinawati Tjindarbumi, Sp THT-KL, RS ini kembali bangkit menjawab tantangan zaman.
Transformasi Medivara membuat bukan sekadar perubahan prosedur, tetapi perubahan cara berpikir. "Dulu kami berjalan dengan niat baik, tapi tanpa sistem yang cukup kuat. Sekarang, saya seperti terpandu, setiap langkah punya arah, setiap proses punya standar, dan setiap orang tahu perannya," ujar dr Dina, sapaan populernya dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menurut Dina, kelahiran kembali sebuah RS bukanlah langkah yang mudah. Dia paham hal itu. Namun tanggung jawab yang diteruskan oleh Dina tak hanya membawa darah keluarga, tetapi juga semangat pembaruan demi memberikan ketenangan bagi pasien.
"Saya menyebut langkah ini sebagai Dharma Nugraha Hospital reborn. Kita tutup buku lama, dan membuka lembaran baru. Di bawah kepemimpinan saya, RS Dharma Nugraha harus bangkit, lebih baik, lebih profesional, dan lebih manusiawi," ujar Dina.
Dia menjelaskan, proses rebranding RS mencakup pembenahan menyeluruh dari infrastruktur, pelayanan, hingga sumber daya manusia. Secara bertahap, fasilitas fisik direnovasi agar lebih nyaman dan tidak kaku, menyesuaikan dengan kebutuhan pasien masa kini.
Desain interior diperbarui agar lebih homie dan tidak lagi kaku, seperti rumah sakit pada umumnya. Dalam jangka menengah, Dharma Nugraha Hospital berencana membangun center of excellence di bidang onkologi. Menurut Dina, langkah itu sekaligus memperluas layanan ke spesialisasi lain, seperti penyakit dalam, bedah, ortopedi, THT, jantung, psikiatri, serta layanan ibu dan anak.