REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak 1964, masyarakat Indonesia memperingati tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan dan kesetaraan terus digaungkan selama 61 tahun terakhir.
Pertanyaannya kemudian, apakah saat ini kesetaraan sudah terealisasi dalam dunia kerja? Profesional perekrutan sekaligus pendiri Headhunter Indonesia, Haryo Suryosumarto, menilai kesetaraan gender di dunia kerja Indonesia masih belum sepenuhnya terwujud. Menurutnya, masih terdapat kesenjangan yang cukup signifikan antara partisipasi laki-laki dan perempuan dalam angkatan kerja.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2024, menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan berada di angka 55,41 persen, sementara laki-laki mencapai 84,02 persen. "Artinya dari 100 perempuan usia kerja, hanya sekitar 55 orang yang masuk angkatan kerja. Sementara pada laki-laki, sekitar 84 dari 100 orang aktif bekerja. Ada gap sekitar 29 poin yang menunjukkan ketimpangan cukup signifikan," jelas Haryo saat dihubungi Republika, Senin (20/4/2026).
Haryo mengungkap ketimpangan paling sering muncul pada proses rekrutmen dan seleksi. la menyoroti adanya sinyal halus dalam deskripsi kebutuhan kandidat yang secara tidak langsung dapat mengarah pada preferensi gender tertentu.
Misalnya, istilah kandidat yang "tough" atau tangguh sering diartikan sebagai kandidat yang tidak banyak mengambil cuti karena alasan keluarga serta siap melakukan perjalanan dinas dalam waktu lama. "Hal ini secara tidak langsung lebih menguntungkan kandidat laki-laki meski tidak secara eksplisit menyebut diskriminasi gender," kata Haryo.