REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Narasi perempuan sebagai sosok "multitasking" atau "superwoman" kerap dipandang sebagai bentuk apresiasi. Padahal label tersebut berpotensi menormalisasi hustle culture yang tidak sehat, terutama ketika perempuan dituntut unggul di semua peran sekaligus.
Guru besar psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan superwoman syndrome membuat perempuan merasa harus sempurna dalam menjalankan banyak peran seperti menjadi ibu, istri, bahkan di ranah pekerjaan. Sayangnya, kondisi tersebut bisa mengarah pada budaya kerja berlebih yang mengabaikan kesehatan fisik dan mental.
"Perempuan memang bisa melakukan banyak peran. Tapi persoalannya bukan sekadar bisa, tapi apakah individu tersebut benar-benar mampu secara fisik dan mental. Perempuan harus bisa menilai dirinya sendiri, apakah ia mampu melakukan itu atau tidak," kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Senin (20/4/2026).
Menurut Prof Rose, tuntutan untuk menjadi sosok sempurna sebagai ibu, istri, ataupun pekerja, dapat menjadi beban jika dijalankan secara bersamaan dan tanpa prioritas yang jelas. Karenanya perempuan perlu menentukan prioritas sesuai fase kehidupannya sendiri.
Sebagai contoh, ketika memiliki anak yang masih kecil, perempuan diharapkan memprioritaskan tumbuh kembang anaknya dibanding hal lain. Namun ketika anak mulai memiliki aktivitas sendiri, perempuan dapat kembali memberi ruang lebih besar pada pengembangan karier.