Selasa 21 Apr 2026 09:40 WIB

Label Superwoman yang Melelahkan, Ketika Perempuan Dituntut Menjadi 'Sempurna'

Menjadi perempuan yang seutuhnya itu adalah ketika dia memiliki kendali atas apapun.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang wanita mengalami superwoman syndrome (ilustrasi). Narasi perempuan sebagai sosok multitasking atau superwoman kerap dipandang sebagai bentuk apresiasi. Padahal label tersebut berpotensi menormalisasi hustle culture yang tidak sehat, terutama ketika perempuan dituntut unggul di semua peran sekaligus.
Foto: Dok. Freepik
Seorang wanita mengalami superwoman syndrome (ilustrasi). Narasi perempuan sebagai sosok multitasking atau superwoman kerap dipandang sebagai bentuk apresiasi. Padahal label tersebut berpotensi menormalisasi hustle culture yang tidak sehat, terutama ketika perempuan dituntut unggul di semua peran sekaligus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Narasi perempuan sebagai sosok "multitasking" atau "superwoman" kerap dipandang sebagai bentuk apresiasi. Padahal label tersebut berpotensi menormalisasi hustle culture yang tidak sehat, terutama ketika perempuan dituntut unggul di semua peran sekaligus.

Guru besar psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan superwoman syndrome membuat perempuan merasa harus sempurna dalam menjalankan banyak peran seperti menjadi ibu, istri, bahkan di ranah pekerjaan. Sayangnya, kondisi tersebut bisa mengarah pada budaya kerja berlebih yang mengabaikan kesehatan fisik dan mental.

Baca Juga

"Perempuan memang bisa melakukan banyak peran. Tapi persoalannya bukan sekadar bisa, tapi apakah individu tersebut benar-benar mampu secara fisik dan mental. Perempuan harus bisa menilai dirinya sendiri, apakah ia mampu melakukan itu atau tidak," kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Senin (20/4/2026).

photo
Superwoman syndrome (ilustrasi). - (Dok. Freepik)

 

Menurut Prof Rose, tuntutan untuk menjadi sosok sempurna sebagai ibu, istri, ataupun pekerja, dapat menjadi beban jika dijalankan secara bersamaan dan tanpa prioritas yang jelas. Karenanya perempuan perlu menentukan prioritas sesuai fase kehidupannya sendiri.

Sebagai contoh, ketika memiliki anak yang masih kecil, perempuan diharapkan memprioritaskan tumbuh kembang anaknya dibanding hal lain. Namun ketika anak mulai memiliki aktivitas sendiri, perempuan dapat kembali memberi ruang lebih besar pada pengembangan karier.

photo
Kesehatan mental wanita (ilustrasi). - (Dok. Freepik)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement