Senin 20 Apr 2026 17:40 WIB

Strategi Bisnis Prodia Bergeser, Ekspansi Klinik Disesuaikan Daya Serap Pasar

Prodia perluas layanan dengan ekspansi klinik

Rep: Dian Fath Risalah,/ Red: Intan Pratiwi
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk Dewi Muliaty (tengah) bersama Direktur PT Prodia StemCell Indonesia Cynthia Retna Sartika (kanan) dan dr. Yanuarso (kiri) menyampaikan paparan dalam konferensi pers peresmian StemCell Clinic Prodia di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Foto: Prodia
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk Dewi Muliaty (tengah) bersama Direktur PT Prodia StemCell Indonesia Cynthia Retna Sartika (kanan) dan dr. Yanuarso (kiri) menyampaikan paparan dalam konferensi pers peresmian StemCell Clinic Prodia di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mulai mengubah arah strategi bisnisnya. Perseroan tidak lagi agresif menambah jumlah klinik, melainkan lebih selektif dengan mempertimbangkan daya serap pasar dan kesiapan tenaga medis.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan, pembukaan layanan baru, termasuk terapi berbasis sel punca (stem cell), tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.

“Setiap kali membuka yang baru, harus ada serapan market. Kami tidak bisa langsung buka,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Senin (20/4/2026).

Menurut dia, pendekatan ini berbeda dengan ekspansi layanan laboratorium yang selama ini berbasis volume. Untuk layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi, pasar dinilai masih terbatas sehingga perlu perhitungan lebih matang.

Selain faktor pasar, ketersediaan tenaga medis menjadi tantangan utama. Prodia menilai investasi terbesar justru bukan pada infrastruktur, melainkan pada keahlian dokter yang menangani layanan tersebut.

“Yang paling mahal investasinya adalah dokter. Keahliannya yang mahal,” kata Dewi.

Karena itu, pembukaan layanan baru akan sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia. Perseroan memastikan setiap layanan didukung dokter dengan kompetensi dan visi yang sejalan agar kualitas tetap terjaga.

Saat ini, layanan terapi sel punca baru tersedia di Prodia Senior Health Centre di Jakarta. Layanan ini menyasar penyakit degeneratif seperti osteoartritis dan osteoporosis, yang banyak dialami kelompok usia lanjut.

Prodia menilai potensi pasar layanan kesehatan berbasis teknologi, termasuk terapi regeneratif, masih terbuka. Namun, pengembangannya dilakukan bertahap dan tidak bersifat ekspansi massal.

Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi perseroan dalam mengelola risiko bisnis. Di tengah biaya tinggi dan pasar yang belum luas, ekspansi yang terlalu cepat dinilai berpotensi menekan kinerja.

Sebagai bagian dari penguatan bisnis, Prodia sebelumnya telah mengakuisisi 30 persen saham PT Prodia StemCell Indonesia (ProSTEM) senilai Rp33 miliar pada 2025. Kolaborasi ini diarahkan untuk mengembangkan layanan kesehatan berbasis bioteknologi dan precision medicine.

Ke depan, Prodia tetap membuka peluang ekspansi layanan ke kota-kota besar. Namun, langkah tersebut akan dilakukan secara selektif, dengan mempertimbangkan kesiapan pasar dan tenaga medis.

Bagi masyarakat, perubahan strategi ini mencerminkan pergeseran bisnis layanan kesehatan. Akses layanan canggih seperti terapi sel punca memang mulai tersedia, tetapi belum bisa diperluas secara cepat karena faktor biaya dan keterbatasan tenaga ahli.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement