REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Awal April 2026 diprediksi menjadi momen istimewa bagi pengamat langit di seluruh dunia. Pada 1 dan 2 April, fenomena Bulan Purnama April yang dikenal sebagai Pink Moon akan menghiasi langit malam di bumi.
Meski namanya "Pink Moon", bulan tidak benar-benar berwarna merah muda. Dilansir laman BBC Sky, Selasa (1/4/2026), penamaan tersebut berasal dari tradisi yang mengaitkan setiap Bulan purnama dengan perubahan musim.
Pink Moon merujuk pada mekarnya bunga-bunga berwarna merah muda di musim semi bulan April. Fenomena serupa juga terlihat pada penamaan seperti Strawberry Moon di bulan Juni dan Snow Moon di bulan Februari.
Secara visual, Pink Moon mungkin tampak berwarna oranye atau kemerahan saat berada di dekat cakrawala. Hal ini terjadi karena efek atmosfer bumi, bukan karena perubahan warna sebenarnya. Bulan purnama terlihat penuh karena posisinya berlawanan dengan matahari, sehingga seluruh sisi yang menghadap bumi tersinari cahaya.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa bulan purnama terbit saat Matahari terbenam. Selain itu, posisi bulan pada bulan April cenderung lebih rendah di langit dibandingkan bulan purnama musim dingin, karena mengikuti pola pergerakan matahari.