Selasa 31 Mar 2026 21:55 WIB

Berkat Peran di Film, Hana Malasan Bisa Lebih Ikhlas dengan Kepergian Sang Ibu

Karakter Naya membantu Hana memahami makna kehilangan dan keikhlasan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pemain film Hana Malasan saat berkunjung ke Kantor Republika, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film Kupeluk Kamu Selamanya yang akan tayang di Bioskop pada 30 April 2026.
Foto: Republika/Prayogi
Pemain film Hana Malasan saat berkunjung ke Kantor Republika, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film Kupeluk Kamu Selamanya yang akan tayang di Bioskop pada 30 April 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Hana Malasan mengungkapkan pengalaman emosional yang ia rasakan setelah membintangi film Kupeluk Kamu Selamanya. Dalam film tersebut, Hana memerankan tokoh Naya, seorang ibu tunggal yang berjuang keras menghidupi anaknya di tengah berbagai kesulitan hidup.

Tak disangka, peran tersebut justru berperan besar pada kehidupan pribadinya. Hana menceritakan bahwa sepekan setelah menyelesaikan proses syuting, sang ibu meninggal dunia. Karakter Naya ternyata membantu Hana memahami makna kehilangan dan keikhlasan. Hana merasa, jika tidak memerankan Naya, proses menerima kepergian ibunya mungkin akan terasa jauh lebih berat.

Baca Juga

"Cerita hidup Naya itu punya pesan bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dan seminggu setelah syuting film ini ibu aku berpulang. Mungkin ini cara semesta berbicara ya, karena peran Naya membantu aku untuk lebih ikhlas," kata Hana saat diwawancara di kantor Republika, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026).

photo
Pemain film Fanny Ghassani, Ibnu Jamil, Hana Malasan dan Nissy Meinard saat berkunjung ke Kantor Republika, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film Kupeluk Kamu Selamanya yang akan tayang di Bioskop pada 30 April 2026. - (Republika/Prayogi)

 

Tak hanya soal keikhlasan, karakter Naya juga membantu Hana memahami kompleksitas menjadi seorang ibu. Hana kini menyadari bahwa menjadi ibu tidak mudah. Selama ini, dia sering kali memandang ibu sebagai sosok yang selalu kuat dan mampu melakukan segalanya.

"Kita sebagai anak sering melihat ibu harus selalu kuat, selalu ada. Padahal kan ibu juga manusia ya, bisa sedih dan bisa melakukan kesalahan. Itu yang sering luput kita pahami," kata Hana.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement