REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melihat anak berteriak, melempar mainan, atau menolak mendengarkan nasihat adalah momen yang sangat menguji kesabaran orang tua. Di saat emosi memuncak dan rasa frustrasi meluap, sangat mudah bagi orang tua untuk melontarkan kalimat-kalimat pedas yang mungkin tidak benar-benar dimaksudkan.
Disiplin memang sulit, terutama jika kita sendiri sedang merasa marah. Namun, para pakar memperingatkan bahwa banyak metode pendisiplinan yang kita terima di masa kecil dulu sebenarnya bermasalah, dan pendekatan tersebut sebaiknya tidak diwariskan ke generasi berikutnya.
Psikolog klinis berlisensi dan Direktur Washington Psychological Wellness, Leda Kaveh, mengatakan pola asuh kita sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. “Orang tua mendisiplinkan anak dengan cara mereka didisiplinkan dulu, bahkan jika kita tidak menyadarinya,” ujar Kaveh dikutip dari laman Huffington Post pada Jumat (27/3/2026).
Perilaku pengasuhan ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman kelekatan awal, norma budaya tentang kepatuhan, hingga stres kronis dan tekanan finansial. Jika Anda memiliki ingatan tentang orang tua yang mendisiplinkan Anda dengan cara yang tidak menguatkan, ada kemungkinan besar Anda melakukan hal yang sama kepada anak Anda.
Para terapis membagikan beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari saat mendisiplinkan anak karena dampak buruk yang bisa ditimbulkannya. Salah satunya adalah kalimat perbandingan seperti, "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?".
Menurut Nicola Pierre-Smith, konselor profesional berlisensi di Philadelphia, pernyataan ini pada dasarnya adalah sebuah serangan karakter. Perbandingan ini membuat anak merasa bahwa diri mereka tidak pernah cukup baik di mata orang tua.