Rabu 25 Mar 2026 08:40 WIB

Surat Pilu Perempuan Gaza untuk Angelina Jolie: Hidup tanpa Jiwa Lebih Buruk dari Kematian

"Dalam perang ini, kami menemukan ada sesuatu yang lebih buruk daripada kematian".

Aktris Angelina Jolie. Jolie membagikan sebuah surat pribadi yang ia terima dari seorang perempuan berusia 26 tahun asal Gaza.
Foto: EPA
Aktris Angelina Jolie. Jolie membagikan sebuah surat pribadi yang ia terima dari seorang perempuan berusia 26 tahun asal Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia mungkin bisa teralihkan oleh deretan tajuk berita baru yang datang silih berganti. Namun bagi mereka yang terjebak di dalam debu reruntuhan, waktu seolah berhenti pada titik penderitaan yang sama.

Hal inilah yang ingin diingatkan oleh aktris Hollywood Angelina Jolie. Melalui unggahan terbarunyadi Instagram, Jolie membagikan sebuah surat pribadi yang ia terima dari seorang perempuan berusia 26 tahun asal Gaza. 

Baca Juga

Beberapa pekan yang lalu, Jolie melakukan perjalanan misi kemanusiaan ke Rafah, sebuah wilayah di perbatasan antara Mesir dan Gaza. Di tengah teriknya cuaca dan ketidakpastian, ia bertemu dengan banyak jiwa yang terkoyak. Salah satunya adalah perempuan ini, seorang penyintas yang harus kehilangan ayahnya dalam sebuah serangan artileri yang brutal. Kini, ia harus bertahan hidup di dalam tenda sempit bersama keluarganya, termasuk saudara perempuannya yang penyandang disabilitas.

Jolie merasa pesan ini terlalu penting untuk disimpan sendiri. “Dia menceritakan kepada saya seperti apa kehidupan sehari-hari bagi dirinya, keluarganya, dan tetangganya. Saya ingin membagikannya. Realitas mereka terus berlanjut, bahkan ketika perhatian kita teralih oleh peristiwa putus asa lainnya yang terjadi di dunia,” tulisnya dikutip dari akun Instagram @angelinajolie pada Rabu (25/3/2026).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Angelina Jolie (@angelinajolie)

 

Dalam suratnya, warga Gaza tersebut menuangkan perasaannya mengenai penderitaan. Dia menyampaikan bagaimana persepsi mereka tentang rasa sakit telah berubah total akibat perang yang tak kunjung usai.

“Dalam perang-perang sebelumnya, kami berpikir bahwa kekalahan atau kematian adalah hal terkejam yang bisa terjadi pada seseorang di negara ini. Kami percaya bahwa itu adalah tingkat rasa sakit tertinggi dan tidak ada yang bisa lebih buruk lagi," tulisnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement