REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena anak berteriak histeris saat tidur atau tampak sangat ketakutan tanpa sebab yang jelas kerap menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua. Belakangan, istilah night terror ini ramai diperbincangkan di masyarakat dan media sosial.
Menanggapi hal ini, dokter spesialis saraf dr Yeni Quinta Mondiani, mengatakan night terror termasuk dalam kelompok parasonia yaitu gangguan parsial dari fase Non-REM. Dia menjelaskan, tidur merupakan fungsi biologis yang sangat penting karena berperan dalam pemulihan fisik dan perkembangan sistem saraf anak
Secara normal, tidur terdiri atas beberapa fase yakni fase non-rapid eye movement (NREM) dan fase rapid eye movement (REM). Fase tidur dalam atau deep sleep terjadi pada fase 3 dan 4 Non-REM. Pada fase inilah tubuh melakukan proses restorasi dan pemulihan.
"Nah gangguan seperti night terror termasuk dalam kelompok parasomnia, sebagaimana diklasifikasikan oleh American Academy of Sleep Medicine. Sleep terror atau night terror umumnya muncul pada sepertiga awal malam, sekitar 60-90 menit setelah anak tertidur," kata dr Yeni dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (11/3/2026).
Gejala yang muncul bisa berupa anak tiba-tiba berteriak karena panik, tampak sangat ketakutan, menangis, gelisah, jantung berdebar, napas cepat, hingga berkeringat. Pada saat kejadian, kata dr Yeni, anak biasanya sulit dibangunkan dan tidak merespons ketika ditenangkan.
"Setelah episode berakhir, anak bisa tampak bingung sesaat lalu kembali tidur. Keesokan paginya, sebagian besar tidak mengingat kejadian tersebut," kata dia.
Pada kebanyakan kasus, night terror tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus, terutama jika jarang terjadi. Salah satu faktor pencetus yang paling sering adalah kurang tidur, karena anak yang terlalu lelah justru lebih berisiko mengalami episode ini. Karena itu, menjaga kecukupan dan kualitas tidur menjadi kunci utama,
Dia mengimbau orang tua untuk tetap tenang saat episode terjadi. "Jangan membangunkan anak secara paksa. Pastikan lingkungan aman agar anak tidak cedera. Jika perlu, orang tua dapat merekam kejadian tersebut untuk bahan konsultasi medis," ujar dr Yeni.