Kamis 26 Feb 2026 15:33 WIB

Kesehatan Mental Mahasiswa Jadi Sorotan, Republika Ajak Kampus Hadirkan Ruang Aman

Isu kesehatan mental yang dulu dianggap tabu kini menjadi kebutuhan mendesak.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Satria K Yudha
Musisi, Danilla Riyadi (kedua kiri), Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah), Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kedua kanan) dan Mental Health Survivor, Febri Susanto (kanan) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa  (BKM) FISIP UI menggelar talkhsow terkait mental health dengan tema Grow Through What You Go Through yang diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aman bagi penyintas untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Musisi, Danilla Riyadi (kedua kiri), Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah), Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kedua kanan) dan Mental Health Survivor, Febri Susanto (kanan) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI menggelar talkhsow terkait mental health dengan tema Grow Through What You Go Through yang diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aman bagi penyintas untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin menyatakan isu kesehatan mental mahasiswa kini menjadi perhatian serius seiring meningkatnya tekanan yang dihadapi generasi muda. Andi menilai, kampus, media, dan komunitas perlu bersama-sama menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam forum diskusi kesehatan mental yang digelar di FISIP Universitas Indonesia bersama Republika di Depok, Kamis (26/2/2026). Menurut dia, perubahan sosial dan budaya membuat persoalan psikologis tidak lagi dapat dipandang sebagai isu pinggiran.

Baca Juga

“Isu kesehatan mental yang dulu dianggap tabu sekarang justru menjadi kebutuhan mendesak. Media tidak cukup hanya memberitakan tragedi setelah terjadi. Media harus ikut menciptakan ruang aman sebelum semuanya terlambat,” kata Dio, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan kampus tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Banyak mahasiswa datang dengan beban emosional yang tidak terlihat, mulai dari tekanan keluarga, tuntutan akademik, hingga persaingan yang semakin ketat.

Dio juga menyinggung kasus meninggalnya dokter muda Aulia Risma Lestari, peserta pendidikan dokter spesialis di Universitas Diponegoro, sebagai pengingat adanya tekanan berat yang kerap tidak terdeteksi di lingkungan pendidikan. Menurut dia, peristiwa tersebut tidak dapat dilihat sebagai persoalan individual semata.

“Kasus ini bukan hanya tentang seorang Aulia. Ini tentang sistem, tentang budaya tekanan, dan tentang kesehatan mental yang sering dianggap tidak penting,” ujarnya.

Ia juga mengutip pesan utama kegiatan tersebut, "Students come to campus carrying more than just books". Menurut Dio, mahasiswa datang tidak hanya membawa tugas atau perangkat belajar, tetapi juga pengalaman pribadi, tekanan sosial, dan pengaruh media sosial.

Data Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Pada 2024, sebanyak 36,5 persen mahasiswa mengalami kecemasan berat, 15,9 persen stres tinggi, 15,2 persen depresi berat, dan 12 persen stres sangat tinggi. Bahkan, satu dari tiga mahasiswa pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Dio menilai kondisi tersebut menunjukkan persoalan kesehatan mental di kalangan mahasiswa telah bergeser dari sekadar tren menjadi krisis yang memerlukan respons serius dari berbagai pihak.

Ia juga menyoroti meningkatnya keterlibatan orang tua dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru sebagai salah satu indikator meningkatnya kebutuhan dukungan emosional di lingkungan kampus.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement