Sabtu 21 Feb 2026 23:03 WIB

Laporan OpenSignal Soroti Performa 5G di Indonesia: Telkomsel Tampil Unggul, Ini Faktor Penentunya

Telkomsel tercatat memperoleh nilai tertinggi dibandingkan operator lainnya.

Suasan booth 5G Experience Center PON XX Papua 2021 di Stadion Lucas Enembe, Jayapura Papua. Telkomsel menjadi yang pertama menghadirkan jaringan 5G di Bumi Cenderawasih  pada momentum PON XX Papua 2021 di Stadion Lucas Enembe Papua. Beberapa use case yang dihadirkan antara lain 5G Virtual Reality (VR) live, 5G VR based drone, dan 5G VR tourism. 
Foto: telkomsel
Suasan booth 5G Experience Center PON XX Papua 2021 di Stadion Lucas Enembe, Jayapura Papua. Telkomsel menjadi yang pertama menghadirkan jaringan 5G di Bumi Cenderawasih pada momentum PON XX Papua 2021 di Stadion Lucas Enembe Papua. Beberapa use case yang dihadirkan antara lain 5G Virtual Reality (VR) live, 5G VR based drone, dan 5G VR tourism. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga independen OpenSignal dalam laporan Mobile Network Experience edisi Desember 2025 mencatat adanya perbedaan performa layanan 5G antaroperator di Indonesia. Dalam sejumlah indikator seperti pengalaman video 5G, kecepatan unduh dan unggah 5G, serta konsistensi kualitas jaringan, Telkomsel tercatat memperoleh nilai tertinggi dibandingkan operator lainnya.

Selain itu, pada kategori Coverage Experience dan Availability Experience 5G, laporan tersebut juga menunjukkan Telkomsel berada pada posisi teratas. Temuan ini memperlihatkan kualitas 5G tidak hanya ditentukan oleh ekspansi jaringan, tetapi juga oleh faktor teknis yang lebih mendasar. Ian Yosef Matheus Edward, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menjelaskan performa 5G sangat dipengaruhi kepemilikan spektrum frekuensi yang memadai dan berkelanjutan.

“Dalam teknologi seluler, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama. Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun kontinu akan lebih optimal dalam menghadirkan kecepatan dan stabilitas 5G,” ujarnya.

Selain spektrum, kata dia, dukungan infrastruktur backbone yang kuat dan terintegrasi juga berkontribusi terhadap konsistensi pengalaman pengguna. Kombinasi faktor-faktor inilah yang umumnya tercermin dalam hasil pengukuran lembaga independen seperti OpenSignal.

Meski demikian, penetrasi 5G di Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia yang telah mencapai sekitar 50 persen. Di Indonesia, penetrasi 5G masih berada di kisaran sekitar 10 persen.

Ian menilai terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, antara lain keterbatasan spektrum 5G yang tersedia, harga perangkat yang belum sepenuhnya terjangkau, serta model bisnis dan use case yang masih berkembang. Untuk menghadirkan layanan 5G yang optimal, menurutnya, idealnya satu operator memiliki alokasi sekitar 100 MHz spektrum. Namun dengan 50 MHz yang kontinu di pita TDD, layanan 5G sudah dapat berjalan dengan performa yang cukup baik.

Saat ini sebagian operator masih mengoptimalkan spektrum existing yang juga digunakan untuk 4G, sehingga implementasi 5G berjalan berdampingan dengan jaringan generasi sebelumnya. Ke depan, Ian berpandangan bahwa kebijakan pengelolaan spektrum perlu dirancang tidak hanya untuk memaksimalkan penerimaan negara, tetapi juga untuk mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan dan pemerataan akses.

“Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat,” tutupnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement