REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada sebuah titik dalam hidup di mana seseorang berhenti mencoba untuk "sembuh" dari kehilangan, bukan karena menyerah, melainkan karena sadar bahwa luka itu adalah bagian dari diri mereka sendiri. Bagi Raisa, titik itu hadir setelah ia melewati perjalanan panjang dalam menerima kepergian sang ibu tercinta.
Di antara heningnya ruang perenungan dan sisa-sisa kenangan yang masih terasa hangat, ia sampai pada sebuah kesimpulan yang kontradiktif namun mendalam bahwa duka dan cinta adalah dua sisi dari koin yang sama. Dari kesadaran inilah, lahir sebuah lagu berjudul "Kuharap Duka Ini Selamanya."
Judulnya mungkin terdengar menyayat, namun di balik kata-katanya, terselip sebuah penerimaan yang tenang. Raisa tidak lagi melihat duka sebagai musuh yang harus diusir atau beban yang harus dilepaskan. Sebaliknya, ia memandang duka sebagai satu-satunya ruang yang tersisa di mana ia bisa terus terhubung dengan sosok yang telah tiada.
Baginya, jika duka itu hilang, maka jejak-jejak kedekatan emosional itu pun terancam memudar. Inilah yang membuat lagu ini terasa begitu personal dan berjarak dari lagu-lagu bertema kehilangan pada umumnya yang sering kali fokus pada proses move on.
"Awalnya aku pikir duka adalah sesuatu yang harus aku lewati dan tinggalkan. Tapi ternyata, semakin mencoba menghindarinya, semakin saya sadar bahwa di dalam duka itu ada cinta yang sangat besar," ujar Raisa dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Jumat (13/2/2025).
Melalui narasi yang ia bangun, Raisa menegaskan bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar menghapus cinta. Justru, duka menjelma menjadi pendamping setia yang menjaga memori tetap hidup.
Dalam lagu ini, pendengar diajak untuk melihat bahwa merangkul kesedihan adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi mereka yang sudah pergi.
Momen perilisannya pun terasa sangat tepat. Menjelang bulan Ramadhan, di mana nuansa kebersamaan biasanya mendominasi atmosfer rumah, absensi seseorang yang dicintai akan terasa jauh lebih nyata.
Ada kursi yang tidak lagi ditempati, atau aroma masakan yang kini hanya tinggal bayangan. Raisa menangkap getaran sunyi tersebut dengan sangat jeli, menjadikan lagu ini sebagai pelukan bagi siapa saja yang tengah menatap kekosongan di meja makan atau di sudut ruang tamu.