REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kreator konten @azkiave menuai kritik di media sosial (medsos) karena dianggap menjadikan pernikahan muda sebagai bagian dari personal branding. Banyak warganet menilai kontennya mendorong perempuan untuk cepat menikah.
Azkiave sendiri diketahui memutuskan berhenti melanjutkan sekolah dan menikah pada usia 19 tahun dengan pria berusia 29 tahun. Menanggapi hal ini, Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia Prof Rose Mini Agoes Salim menyatakan anak muda terutama generasi Z perlu menyikapi konten pernikahan dini dengan bijak.
Menurutnya, konten semacam itu biasanya hanya menampilkan sisi manis saja, tanpa memberi gambaran soal tanggung jawab, konflik, atau tantangan yang akan dihadapi dalam pernikahan. "Orang yang mempropagandakan menikah dini biasanya hanya menampilkan sisi manisnya saja. Mereka bilang enak, kita bisa cepat jadi halal dan melakukan apa saja, tidak dianggap zina. Tapi mereka suka lupa dengan tanggung jawab dan tantangan nyata di pernikahan. Padahal hal-hal itu sangat penting," kata Rose saat dihubungi Republika, Senin (5/1/2026).
Prof Rose mengatakan menikah, baik di usia muda maupun usia matang, memang memiliki kemungkinan akan langgeng. Namun menurut dia, bagi yang menikah usia muda, terlalu banyak hal yang mesti diperhatikan oleh kedua pihak karena baik suami maupun istri mash dalam tahap perkembangan diri.
"Mereka harus menyesuaikan diri dengan diri sendiri, pasangan, dan bahkan nantinya sebagai orang tua. Pada usia muda, keberhasilan pernikahan itu tidak bisa dipastikan," kata dia.