Rabu 31 Dec 2025 17:54 WIB

Psikososial Anak Terdampak Gempa Poso Jadi Fokus Program Pemulihan

Pemulihan psikologis anak anak terdampak bencana jadi hal penting

Korps Relawan Bencana (KRESNA)
Foto: Korps Relawan Bencana (KRESNA)
Korps Relawan Bencana (KRESNA)

REPUBLIKA.CO.ID, POSO — Upaya pemulihan kondisi psikologis anak-anak terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso menjadi fokus utama dalam rangkaian program dukungan psikososial yang digelar di wilayah tersebut. Program ini menyasar ratusan siswa dari jenjang PAUD hingga SMP yang terdampak langsung bencana, dengan pendekatan pemulihan trauma, penguatan mental, serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.

Korps Relawan Bencana (KRESNA) Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) menggelar rangkaian program dukungan psikososial bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Program ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan penguatan kapasitas guru yang sebelumnya dilaksanakan di Aula BPMP Provinsi Sulawesi Tengah pada 20–21 November 2025.

Kegiatan pendampingan anak dilaksanakan pada 23–26 November 2025, dengan sasaran siswa PAUD, TK, SD, dan SMP di wilayah terdampak. Program untuk anak usia dini hingga SD dikemas dalam kegiatan bertajuk Rumah Gembira, sementara untuk jenjang SMP menggunakan pendekatan bertema Menjadi Lebih Kuat. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk membantu pemulihan kondisi psikologis anak pascabencana melalui pendekatan edukatif, permainan, serta simulasi penyelamatan diri atau Integrated Drill Procedure.

Sebanyak 31 sekolah terlibat dalam kegiatan ini dengan total peserta mencapai 1.625 siswa, terdiri dari 43 siswa PAUD, 96 siswa TK, 1.005 siswa SD, dan 481 siswa SMP. Kegiatan berlangsung bertahap, mulai dari pelatihan siswa PAUD hingga SMP pada 23–25 November 2025, dan ditutup dengan pentas seni serta simulasi kesiapsiagaan bencana pada 26 November 2025.

Sekretaris KRESNA HIMPSI, Nur Afni Indahari Arifin, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa program ini merupakan respons atas gempa berkekuatan 5,8 magnitudo yang mengguncang Desa Ueralulu, Kecamatan Poso Pesisir, pada 17 Agustus 2025. Gempa tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis anak-anak dan tenaga pendidik di wilayah terdampak.

“Berdasarkan hasil asesmen awal yang dilakukan pada 18 September 2025 terhadap 456 siswa, ditemukan bahwa lebih dari separuh anak mengalami kecemasan dan ketakutan berulang, serta sebagian lainnya mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk. Temuan ini menunjukkan perlunya intervensi psikososial yang terstruktur dan berkelanjutan,” ujar Nur Afni.

Hasil asesmen mencatat sebanyak 54,83% anak mengalami kecemasan dan ketegangan, 61,18% mudah merasa takut pada situasi tertentu, 14,25% mengalami kesulitan tidur, serta 13,6 persen mengalami mimpi buruk terkait peristiwa bencana.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama HIMPSI melalui KRESNA menyelenggarakan program dukungan psikososial yang mencakup asesmen lanjutan, trauma healing, hingga simulasi kesiapsiagaan bencana. Kegiatan ini melibatkan sekitar 100 psikolog dan akademisi psikologi dari HIMPSI Pusat serta wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.

Selain itu, KRESNA HIMPSI juga bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Poso dan Kota Palu dalam pelaksanaan simulasi penyelamatan diri. Seluruh fasilitator dan relawan telah dibekali pelatihan khusus untuk memastikan pelaksanaan program berjalan aman dan sesuai standar penanganan psikologis pascabencana.

Puncak kegiatan ditandai dengan pentas seni yang digelar di 17 titik di Kabupaten Poso. Salah satu kegiatan utama berlangsung di Lapangan Tangkura dan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Poso, di antaranya Asisten II Setda Poso Abdul Kahar Latjare dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Poso Roy Pesudo, serta para kepala sekolah dan pengawas pendidikan setempat.

Melalui program ini, KRESNA HIMPSI berharap dapat memperkuat pemulihan psikologis anak-anak penyintas bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi situasi darurat di masa mendatang. HIMPSI juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program pemerintah dalam membangun satuan pendidikan yang aman, tangguh, dan berdaya tahan terhadap bencana.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement