Ahad 09 Jun 2024 13:53 WIB

Tergila-gila Belanja Online? Ini Alasan Mengapa Banyak Orang Menyukainya

Ada beberapa daya tarik belanja online yang membuat masyarakat kepincut.

Kurir mengantarkan barang pesanan konsumen yang dibeli secara online (ilustrasi). Ada beberapa alasan mengapa masyarakat kini lebih menyukai belanja online.
Foto: republika
Kurir mengantarkan barang pesanan konsumen yang dibeli secara online (ilustrasi). Ada beberapa alasan mengapa masyarakat kini lebih menyukai belanja online.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Di era digital ini, aktivitas belanja online telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Popularitasnya terus meningkat pesat, menarik minat dari berbagai kalangan, mulai dari generasi muda hingga orang tua.

Insentif promo ongkos kirim gratis dan berbagai diskon lainnya yang ada di platform perdagangan elektronik atau e-commerce disebut menjadi daya tarik bagi konsumen untuk berbelanja karena membuat lebih hemat. Riset dari berbagai lembaga menyatakan kecenderungan pengguna atau konsumen belanja, salah satunya dilatarbelakangi karena adanya insentif tarif jasa kurir dari platform e-commerse.

Baca Juga

Riset We Are Social pada tahun ini menggambarkan gaya belanja pengguna e-commerce di Tanah Air. “Ongkir gratis dan kecepatan pengiriman barang turut menjadi pertimbangan. Sebanyak 47,4 persen responden, menyatakan layanan ongkir gratis menjadi pilihan favorit dan menjadi alasan mereka berbelanja daring. Yang kedua, layanan Next Day (28,5 persen) disukai para pengguna sehingga makin mendorong seseorang berbelanja,” tulis laporan tersebut.

Riset lain menunjukkan, terdapat sejumlah alasan konsumen lebih memilih berbelanja e-commerce, dibanding secara konvensional datang ke toko fisik. Lembaga riset Populix yang fokus mengamati branding suatu perusahaan dan analisis pasar, menyebut, alasan responden berbelanja e-commerce salah satunya lantaran hemat tenaga dan waktu (79 persen), gratis ongkos kirim (72 persen), harga lebih murah (62 persen), hingga ragam diskon belanja di e-commerce (61 persen).

Sementara itu, riset Kantar terbaru, hampir serupa dengan lembaga lain yang merekam gaya belanja masyarakat Indonesia kebanyakan. Yang menjadi pembeda, temuan riset itu, mengatakan pembeli di ecommerce lebih fokus pada barang apa yang ingin dibeli dan juga keinginan pengiriman barang lebih cepat. Responden disebut, menginginkan pengiriman barang mereka datang lebih cepat alias tepat waktu, sesuai dengan apa yang dipesan.

Inilah yang mendorong platform e-commerce menawarkan beragam jasa layanan berdasarkan kecepatan atau kebutuhan dari penggunanya ketimbang menawarkan perusahaan jasa logistiknya. Mulai dari pilihan Instan, Reguler, Same Day, Ekonomi/Hemat, hingga Kargo.

Seperti Shopee, e-commerce bernuansa oranye itu, menampilkan berbagai pilihan berdasarkan kategori harga, kecepatan dan kapasitas layanan pengiriman. Namun, pembeli masih dapat mengganti perusahaan logistik yang tersedia berdasarkan kategori yang mereka pilih setelah check out, sebelum penjual mengirimkan barang.

Begitu juga di Tokopedia, Lazada, dan Tiktok Shop. Nama perusahaan logistik tidak tercantum dalam pilihan pertama layanan pengiriman. Hanya tersedia pilihan kategori Instan, Reguler, Same Day, Ekonomi/ Hemat hingga Kargo berikut tarif pengiriman.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Logistik E-commerce (APLE) Sonny Harsono mengatakan hampir seluruh pemain e-commerce di Indonesia, melakukan interpretasi cross selling atau promosi secara silang yang merupakan salah satu strategi marketing.

Tampilan pilihan logistik berdasarkan jenis kategori dan layanan kepada pelanggan, menurut Sony merupakan hal yang wajar. Hal tersebut ditujukan untuk mempermudah pelanggan memilih jenis layanan pengiriman.

“Karena dari pengamatan dan yang kami alami sendiri di lapangan platform Shopee masih menggunakan jasa logistik lain selain miliknya sendiri sehingga tidak memenuhi klasifikasi monopoli maupun oligopoli. Karena ada lebih dari tiga perusahaan kurir masih bekerja sama aktif dengan Shopee,” kata Sonny belum lama ini.

sumber : Antara

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement