Kamis 04 Apr 2024 18:44 WIB

Cuaca Ekstrem dan Mudik Tingkatkan Penularan Flu Singapura?

Aktivitas mudik juga bisa mempengaruhi tingkat penularan penyakit Flu Singapura

Rep: Santi Sopia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Bayi berusia satu tahun yang menderita hand, foot and mouth disease (HFMD) alias flu singapura dirawat di rumah sakit di Hanoi, Vietnam, 1 September 2011.
Foto: EPA/LUONG THAI LINH
Bayi berusia satu tahun yang menderita hand, foot and mouth disease (HFMD) alias flu singapura dirawat di rumah sakit di Hanoi, Vietnam, 1 September 2011.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Flu Singapura atau penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) perlu diwaspadai pada musim peralihan hujan dan musim panas. Selain itu, aktivitas mudik juga bisa mempengaruhi tingkat penularan penyakit tersebut.

"Flu Singapura banyak terjadi di musim peralihan hujan dan musim panas. Alasannya ahli epidemologi yang bisa menjelaskan karena meneliti," kata Prof Dr dr Edi Hartoyo, Sp.A(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Selasa (2/4/2024).

Prof Edi mengatakan sejak satu bulan lalu, kasus Flu Singapura cukup meningkat. Penyakit ini bisa sembuh sendiri atau bersifat self limited, tetapi tidak menyebabkan kebal.

Artinya, jika pada musim tahun ini sudah terkena penyakit tersebut, maka musim depannya masih bisa kena. Sebab tidak ada kekebalan spesifik untuk Flu Singapura.

Sementara itu, sampai sekarang belum ada laporang ilmiah penyakit ini menyebabkan kematian di Indonesia. Berbeda dengan negara lain yang memiliki laporan telah menyebabkan kematian.

Faktor risiko HFMD termasuk anak di bawah usia lima tahun. Penyakit ini sangat jarang dialami orang dewasa.

Adapun perjalanan mudik juga bisa saja meningkatkan risiko penularan. Apalagi jika menggunakan transportasi umum, di mana orang tua bisa tidak sadar akan potensi penularan.

Saat di kampung, berkumpul dengan orang banyak, sehingga menyebabkan lebih banyak orang tertular. Sebaiknya waspada dengan droplet karena itu merupakan salah satu faktor penularannya, mirip seperti Covid-19.

"Kalau ada tanda di mulut seperti sariawan, lesi di telapak tangan, kaki, kadang di badan, maka isolasi jangan keluar rumah lima sampai tujuh hari, tapi tidak perlu dua minggu sampai tidak sekolah karena sembuhnya bisa lebih cepat," ujar dia.

Syarat penyakit ini bisa sembuh lebih cepat yaitu dengan tetap menjaga istirahat dan nutrisi yang baik. Selain itu juga mencukupi asupan cairan agar mencegah dehidrasi.

"Tipsnya naikkan daya tahan tubuh, istirahat cukup, nutrisi gizi baik dan banyak minum secara otomatis akan mampu menghalau jenis virus apa pun," kata dia.

Belum ada vaksinasi khusus yang dikembangkan untuk penyakit ini. Pentung untuk segera menemui tenaga kesehatan jika mengalami gejala-gejala seperti demam di atas 39 derajat celcius atau bahkan kejang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement