Rabu 21 Feb 2024 15:03 WIB

Anak Remaja Lakukan Perploncoan di Sekolah, Orang Tua Harus Bagaimana?

Ada tiga hal yang bisa dilakukan orang tua yang dapati anaknya jadi pelaku kekerasan.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Friska Yolandha
Bullying (ilustrasi). Korban bullying diharapkan dapat sembuh dari luka fisik maupun trauma.
Foto: Dok. Freepik
Bullying (ilustrasi). Korban bullying diharapkan dapat sembuh dari luka fisik maupun trauma.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua tentu akan dihadapkan pada dilema yang mendalam ketika mengetahui anak mereka melakukan perploncoan atau kekerasan di sekolah. Sering kali, orang tua juga tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika dihadapkan pada situasi seperti ini.

Menurut psikolog klinis dari TigaGenerasi, Ayoe Sutomo MPsi Psikolog, ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh orang tua bila mendapati anak remaja mereka menjadi pelaku kekerasan di sekolah. Salah satu hal pertama yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah mengajak sang anak untuk mengobrol dan berdiskusi. Diskusi ini bertujuan untuk mengetahui motif di balik tindak kekerasan yang dilakukan sang anak.

Baca Juga

"Karena kan di setiap perilaku ada sesuatu yang diyakini (oleh) individu. Kenapa sih melakukan itu? Kita perlu tahu dulu," terang Ayoe kepada Republika.co.id pada Selasa (20/2/2024).

Tentu, ketika anak menjadi pelaku kekerasan atau perploncoan di sekolah, akan ada konsekuensj yang harus mereka terima. Dalam situasi seperti ini, Ayoe mengatakan orang tua perlu mendampingi sang anak untuk menjalani konsekuensi tersebut dengan bertanggung jawab.

 

Ayoe melanjutkan, hal ketiga yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah segera bangkit dari beragam emosi yang merundung mereka. Ayoe mengatakan, orang tua mungkin merasa marah, tidak terima, sedih, atau kesal ketika pertama kali mengetahui bahwa anak mereka menjadi pelaku kekerasan di sekolah.

"Tapi, bagaimana pun kan apa yang terjadi pada anak tidak pernah lepas dari apa yang menjadi tanggung jawab kita (orang tua)," lanjut Ayoe.

Oleh karena itu, Ayoe mengatakan orang tua boleh merasa marah hingga kesal atau kecewa. Namun, orang tua juga perlu segera bangkit dari emosi-emosi tersebut agar bisa mendampingi anak dalam menjalani konsekuensi yang harus sang anak terima akibat perbuatannya.

Di saat yang sama, Ayoe menilai orang tua juga perlu tetap memberikan dukungan kepada anak. Dukungan ini bisa berupa dukungan moral atau psikologis dan menjadi support system yang baik untuk sang anak.

"Marah boleh, tidak terima boleh, denial boleh, kesal boleh. Tapi, bagaimana pun, harus cepat bangkit untuk mendukung kembali anak menjalankan konsekuensi-konsekuensi atau menghadapi konsekuensi-konsekuensi yang terjadi atas tindakannya tersebut dan tetap menjadi support, memberikan support psikologis terbaik untuk anak," ujar Ayoe. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement