Selasa 30 Jan 2024 14:22 WIB

Aktivis Lempar Cairan Sup ke Lukisan Mona Lisa di Paris

Aksi lempar cairan ini tidak merusak lukisan karena terlindung kaca.

Rep: Santi Sopia/ Red: Friska Yolandha
Para jurnalis berjalan melewati Mona Lisa karya Leonardo da Vinci saat berkunjung ke museum Louvre pada Selasa, 23 Juni 2020. Dengan menggunakan sinar-X untuk mengintip struktur kimia dari setitik kecil karya seni terkenal tersebut, para ilmuwan mendapatkan wawasan baru tentang Mona Lisa.
Foto: AP Photo/Christophe Ena
Para jurnalis berjalan melewati Mona Lisa karya Leonardo da Vinci saat berkunjung ke museum Louvre pada Selasa, 23 Juni 2020. Dengan menggunakan sinar-X untuk mengintip struktur kimia dari setitik kecil karya seni terkenal tersebut, para ilmuwan mendapatkan wawasan baru tentang Mona Lisa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para aktivis lingkungan melemparkan sup kalengan ke lukisan Mona Lisa yang dipajang di Museum Louvre, Paris, Ahad (28/1/2024) waktu Prancis. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terkait hak atas “makanan sehat dan berkelanjutan”.

Lukisan Mona Lisa dari abad ke-16 karya Leonardo da Vinci itu adalah salah satu karya seni paling terkenal di dunia, dan disimpan di Louvre di pusat kota Paris. Pihak Louvre mengatakan karya tersebut berada di balik kaca pelindung dan tidak rusak.

Baca Juga

Video menunjukkan dua pengunjuk rasa perempuan mengenakan kaus bertuliskan "perlawanan makanan", melemparkan cairan sup tersebut. Mereka kemudian berdiri di depan lukisan itu sambil berkata: “Apa yang lebih penting? Seni atau hak atas pangan sehat dan berkelanjutan?"

“Sistem pertanian Anda sedang sakit. Para petani kami sekarat di tempat kerja,” kata mereka menambahkan, seperti dilansir dari laman BBC, Selasa (30/1/2024).

 

Pihak keamanan museum kemudian terlihat memasang layar hitam di depan demonstran sebelum ruangan dievakuasi. Sebuah kelompok bernama Riposte Alimentaire (Perlawanan Makanan) mengaku bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang diposting ke X (sebelumnya Twitter), mereka mengatakan protes tersebut adalah bagian dari upaya untuk mengintegrasikan “pangan ke dalam sistem jaminan sosial secara umum”. Dikatakan bahwa model pangan yang ada saat ini “menstigmatisasi kelompok yang paling berbahaya dan tidak menghormati hak dasa atas pangan”.

Kelompok tersebut menyerukan agar kartu makanan senilai 128 pounsdsterling diberikan kepada warga setiap bulan untuk digunakan pada makanan.

Pihak Louvre menyatakan bahwa anggota Riposte Alimentaire, yang digambarkan sebagai gerakan lingkungan, melemparkan sup labu ke lukisan itu sekitar pukul 10.00 waktu setempat dan tidak ada kerusakan yang ditimbulkan pada lukisan.

Dikatakan Salle des Etats, tempat tesebut telah dievakuasi, dan dibuka kembali untuk pengunjung pada pukul 11.30 setelah dilakukan pembersihan.

Rachida Dati, Menteri Kebudayaan Perancis, mengatakan sepatutnya aksi unjuk rasa tidak dilakukan terhadap karya seni. Pihak museum akan mengajukan keluhan dan aksi pelemparan itu disebut tidak dapat dibenarkan.

"Tidak ada alasan yang bisa membenarkan Mona Lisa dijadikan sasaran. Seperti warisan kita (lukisan) itu milik generasi mendatang,” katanya di X.

Ibu kota Perancis terlah dilanda protes dari para petani dalam beberapa hari terakhir. Banyak yang menyerukan diakhirinya kenaikan harga bahan bakar dan penyederhanaan peraturan. Pada hari Jumat, mereka memblokir jalan-jalan utama masuk dan keluar Paris.

Lulisan Mona Lisa berada di balik kaca pengaman sejak awal tahun 1950-an, ketika dirusak oleh pengunjung yang menuangkan cairan asam. Pada tahun 2019, pihak museum mengatakan telah memasang kaca antipeluru yang lebih transparan untuk melindunginya.

Pada tahun 2022, seorang aktivis melemparkan kue ke lukisan itu, mengajak publik untuk “berpikir tentang Bumi”. Lukisan itu dicuri dari Louvre pada tahun 1911 sehingga menimbulkan ketegangan internasional. Vincenzo Peruggia, pegawai museum yang paling banyak dikunjungi di dunia itu bersembunyi di lemari semalaman untuk mengambil lukisan tersebut.

Benda itu ditemukan kembali dua tahun kemudian ketika dia mencoba menjualnya ke pedagang barang antik di Florence, Italia. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement