Kamis 07 Dec 2023 15:51 WIB

Penyebab Terbesar Gagalnya Pernikahan Menurut Pengacara Perceraian

Istri maupun suami disarankan mengutarakan kebutuhannya dibandingkan mengeluh.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Pasangan bercerai (ilustrasi). Ada beberapa hal yang disinyalir menjadi penyebab terbesar pernikahan gagal menurut pengacara perceraian.
Foto: www.freepik.com
Pasangan bercerai (ilustrasi). Ada beberapa hal yang disinyalir menjadi penyebab terbesar pernikahan gagal menurut pengacara perceraian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Merika Serikat mengungkapkan, sekitar 22 persen penikahan berakhir dalam lima tahun pertama. Ada banyak kemungkinan alasan perceraian, mulai dari perselingkuhan atau pertengkaran berlebihan hingga masalah keuangan atau sekadar perpisahan. 

Namun, pengacara perceraian yang berbasis di New York, Dennis R Vetrano, Jr, melihat adanya tren berkembang yang mungkin "menyabotase" pernikahan. Berikut beberapa penyebab terbanyak perceraian menurut dia:

Baca Juga

1. Perempuan mengambil terlalu banyak peran

"Saya melihat ibu-ibu yang bekerja melakukan semuanya. Saya juga melihat para suami mundur dan berkata, 'Saya tidak perlu melakukan apa pun," ujar Vetrano dalam video terbarunya di TikTok, yang dilansir laman Best Life, Rabu (6/12/2023).

 

Menurut Vetrano, banyak perempuan saat ini tidak hanya memikul sebagian besar tanggung jawab sebagai orang tua, namun mereka juga mempertahankan pekerjaan penuh waktu, memasak makan malam setiap malam, dan mengurus pekerjaan rumah . “Wanita lelah,” ujarnya.

Tentu saja, tidak mungkin untuk membagi semuanya secara merata sepanjang waktu, tetapi para ahli sepakat hal itu harus dilakukan secara seimbang.

"Salah satu alasan orang menikah adalah memiliki seseorang untuk diajak berbagi pada masa-masa sulit," kata Bill Gentry, seorang pengacara perceraian, pemilik Gentry Law Firm dan penulis I Want Out.

“Kita semua mengharapkan pasangan kita berbuat lebih banyak ketika kita sakit atau mengalami masa sulit. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, sangat masuk akal untuk menyeimbangkan tanggung jawab rumah tangga," kata dia.

2. Pergeseran budaya yang lebih besar

“Peran gender dalam pernikahan dan kemitraan terus berkembang,” kata Holly J Moore, pengacara perceraian pendiri di Moore Family Law Group.

“Semakin banyak perempuan yang mengejar karier dan sering kali menjadi pencari nafkah utama rumah tangga,” ujarnya lagi.

Jadi, mengapa hubungan menjadi begitu timpang padahal sudah banyak kemajuan dalam kesetaraan gender?. “Sering kali ada asumsi bahwa perempuan harus menangani tanggung jawab rumah tangga,” kata Amy Colton, analis keuangan perceraian bersertifikat, mediator hukum keluarga, dan pendiri Your Divorce Made Simple.

Ia mengatakan, seiring dengan semakin meluasnya peran perempuan dalam angkatan kerja, tidak selalu terjadi perubahan yang sesuai dalam dinamika domestik. Hal itu menyebabkan ketidakseimbangan di mana perempuan terbebani secara berlebihan baik di tempat kerja maupun di rumah.

3. Ada alasan umum yang menyebabkan ketidakseimbangan

Pengacara perceraian di Einhorn Barbarito di New Jersey, Matheu Nunn, mengatakan sebagian dari hal ini berakar pada gagasan kuno tentang seperti apa seharusnya pernikahan. Beberapa pria tumbuh besar dengan menyaksikan ibu mereka merawat ayah mereka, sehingga mereka meromantisasi gagasan ini.

“Yang sering terjadi adalah istri menjadi pengasuh utama tidak hanya bagi anak-anaknya tetapi juga suaminya,” jelas Gentry. 

Seperti yang ia katakan, para wanita pada dasarnya merasa seperti ibu tunggal. “Kalau suamimu tidak membantu belanjaan, membantu mengurus anak, mencuci pakaian, membantu menyiapkan makanan, coba tebak? Kamu tidak punya pasangan, kamu punya anak lagi,” jelas Vetrano dalam video TikTok lainnya.

Jika Anda berpikir untuk menikahi seseorang, Gentry menyarankan untuk memperhatikan dinamika antara pasangan Anda dan orang tuanya. "Jika mereka melakukan segalanya untuknya dan dia tampak tidak berdaya, mungkin memang begitu".

4. Mengubah dinamika .

Nunn dan Moore setuju bahwa seperti masalah lain dalam suatu hubungan, komunikasi adalah kuncinya. “Istri harus merasa nyaman mendiskusikan perasaan dan kekhawatiran mereka, menghindari penumpukan kebencian dengan mengatasi masalah sejak dini dan konstruktif,” kata Moore. 

Penting bagi para suami untuk secara proaktif menawarkan bantuan dalam tugas-tugas rumah tangga dan mengasuh anak daripada berasumsi pasangan mereka akan menangani semuanya. Colton merekomendasikan agar para suami secara rutin menghubungi istrinya, mengajukan pertanyaan seperti, "Bagaimana saya dapat mendukung kamu?" daripada selalu memberikan tanggung jawab padanya untuk meminta bantuan.

Seorang trainer hubungan dan penulis buku terlaris, Laura Doyle, mengatakan dia adalah salah satu dari wanita tersebut, terlalu banyak bekerja dan kewalahan. Dia hampir menceraikan suaminya karena masalah ini. Namun, ia akhirnya sadar, jika mengutarakan kebutuhan atau keinginannya ketimbang mengeluh, maka suaminya akan merespons berbeda.

Segalanya berubah ketika Doyle hanya berkata,"Saya ingin dapur bersih", dan bukannya "Dapur ini adalah bencana!". Dia berbagi, "Itu terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu dan dia terus membersihkan dapur sejak saat itu".

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement