Ahad 03 Dec 2023 19:45 WIB

Wisata Peninggalan Kolonial Belanda di Bouwplan V Malang

Kawasan Bouwplan V diyakini termasuk tertua di Indonesia.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Indira Rezkisari
Penampilan bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kota Malang yang beberapa di antaranya masih sama dengan wujud aslinya sedangkan lainnya sudah tidak dikenali lagi.
Foto: Republika/ Wilda Fizriyani
Penampilan bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kota Malang yang beberapa di antaranya masih sama dengan wujud aslinya sedangkan lainnya sudah tidak dikenali lagi.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu liburan. Salah satunya adalah dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Komunitas History Fun Walk Malang baru-baru ini melaksanakan kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di area Bouwplan V Kota Malang. Terutama di area dekat Mall Olympic Garden (MOG) dan Stadion Gajayana. Selain area Bouwplan V, kegiatan ini turut menghampiri beberapa peninggalan kolonial Belanda di Jalan Kelud, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen.

Baca Juga

Pendiri History Fun Walk Malang, Yehezkiel Jefferson Halim, mengungkapkan kegiatan kali ini bertemakan "Sportpark Gebieb Bergenbuurt". Sesuai dengan tema, kegiatan lebih menelusuri kawasan Bouwplan V yang mana dikenal sebagai "taman olahraga" di zaman kolonial Belanda.

Menurut Yehezkiel, kawasan Bouwplan V dibangun oleh kolonial Belanda sekitar 1924 hingga 1926. Kompleks taman olahraga ini diyakini termasuk tertua di Indonesia. "Semula yang tertua itu di Menteng karena dibangun pada 1921. Namun sekarang sudah tidak ada. Oleh karena itu, yang di Kota Malang dianggap sebagai yang tertua di Indonesia," jelasnya di Kota Malang, Ahad (3/12/2023).

 

Wilayah tersebut tercatat memiliki fasilitas olahraga cukup lengkap. Beberapa di antaranya lapangan sepak bola, lapangan tenis, lapangan basket, lapangan voli, lapangan atletik, lapangan hoki dan kolam renang. Fasilitas ini semula dibangun di atas lahan seluas sembilan hektare (ha) dengan anggaran sekitar 85 ribu gulden.

Selain area tersebut, rumah di Jalan Tenes Nomor 24 dan Nomor 14 turut dibahas oleh komunitas History Fun Walk Malang. Rumah di Jalan Tenes Nomor 24 ini diketahui telah dibangun sejak zaman Belanda. Rumah ini pernah dimiliki oleh tokoh militer Indonesia bernama Imam Soedja'i.

Berdasarkan catatan sejarah, Imam Soedja'i termasuk salah satu dari tiga kandidat panglima TNI. Selain Imam, diketahui terdapat nama Jenderal Sudirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo yang masuk dalam kandidat tersebut. Namun saat itu, Imam lebih memilih ikut perang di peristiwa 10 November Surabaya sehingga Jenderal Sudirman pun terpilih sebagai Panglima TNI.

Sementara itu, bangunan di Jalan Tenes Nomor 14 (kini menjadi bistro My Kopi-O!) tercatat mulai dibangun pada 1929. Rumah ini pada awalnya dimiliki oleh administrator pabrik gula di Jombang, Sir Tom Thomas. Bangunan yang diyakini dijual kepada swasta pada 1950 ini masih mempertahankan struktur lama hingga sekarang.

Komunitas History Fun Walk Malang turut mengunjungi area bozem yang kini terdapat Gedung KNPI Kota Malang. Area tersebut pada masa kolonial Belanda merupakan saluran penampungan air saat hujan lebat. Keberadaan tempat tersebut semula ditunjukkan agar air hujan tidak meluber ke wilayah publik.

Terdapat bangunan sekolah rakyat...

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement