Kamis 16 Nov 2023 16:44 WIB

Studi: Kurangi Satu Sendok Teh Garam Sama Efektifnya dengan Obat Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi disebut sebagai silent killer karena tidak menunjukkan gejala.

Rep: Meiliza Laveda / Red: Friska Yolandha
Studi terbaru mengungkapkan mengurangi satu sendok teh garam dari makanan setiap hari dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
Foto: Republika.co.id
Studi terbaru mengungkapkan mengurangi satu sendok teh garam dari makanan setiap hari dapat menurunkan tekanan darah tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi terbaru mengungkapkan mengurangi satu sendok teh garam dari makanan setiap hari dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Cara ini sama efektifnya seperti obat hipertensi.

Satu sendok teh garam mengandung 2.300 miligram, batas harian tertinggi untuk orang berusia di atas 14 tahun yang direkomendasikan oleh pedoman nutrisi terbaru AS. Namun, American Heart Association (AHA) merekomendasikan pola makan dengan kurang dari 1.500 miligram sodium sehari.

Baca Juga

“Kami menemukan 70 hingga 75 persen orang cenderung mengalami penurunan tekanan darah jika mereka menurunkan kadar natrium dalam makanannya,” kata peneliti utama dan profesor pengobatan pencegahan di Northwestern University’s Feinberg School of Medicine, Norrina Allen, dilansir CNN, Kamis (16/11/2023).

Tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer karena tidak menunjukkan gejala apa pun. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah melakukan tes darah. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023, hipertensi memengaruhi satu dari tiga orang dewasa di seluruh dunia dan dapat menyebabkan serangan jantung, gagal jantung, kerusakan ginjal, dan stroke.

 

Hampir separuh penduduk AS hidup dengan tekanan darah tinggi. Sekitar sepertiga dari mereka menderita hipertensi resisten, yaitu tekanan darah tinggi yang tidak memberikan respons meskipun telah menggunakan tiga jenis obat secara bersamaan. 

Sebuah studi tahun 2021 menemukan pria berusia 20 hingga 49 tahun memiliki kemungkinan 70 persen lebih besar untuk menderita hipertensi yang tidak terkontrol dibandingkan wanita pada usia yang sama. 

Penelitian yang diterbitkan pada Sabtu di jurnal JAMA, melibatkan 213 orang berusia 50 hingga 75 tahun untuk menjalani diet tinggi atau rendah sodium selama satu pekan. Setelah mengonsumsi makanan tersebut selama tujuh hari, setiap orang beralih ke pola makan alternatif.

Sekitar 25 persen peserta memiliki tekanan darah normal. Sementara 25 persen lainnya menderita hipertensi yang tidak diobati. Sisanya, 20 persen memiliki tekanan darah terkendali dan 31 persen tidak.

Selama pekan tinggi garam, mereka mengonsumsi makanan normal bersama dengan dua bungkus kaldu yang berisi 1.100 miligram sodium. Selama pekan rendah garam, mereka mengonsumsi makanan dengan rendah sodium yang dibeli dan diberikan oleh ahli diet. Targetnya hanya 500 miligram garam sehari, sebuah penurunan drastis.

Studi menemukan, penurunan tekanan darah saat menjalani diet rendah sodium berlangsung cepat. Dibandingkan dengan diet tinggi natrium, tekanan darah pada diet sangat rendah garam turun delapan milimeter merkuri.

“Dibandingkan dengan pola makan normal, orang-orang mengalami penurunan tekanan darah sekitar enam milimeter merkuri, efek yang hampir sama dengan yang Anda lihat pada pengobatan tekanan darah lini pertama,” ujarnya.

Mengurangi jumlah garam tidak memiliki efek samping yang signifikan kecuali Anda memperhitungkan penyesuaian pola makan yang lebih hambar.

“Saat Anda beralih dari pola makan tinggi garam ke pola makan rendah garam, semuanya terasa hambar. Saya ingin mendorong orang untuk tetap menggunakannya karena selera Anda akan menyesuaikan diri dalam beberapa pekan atau lebih. Penyesuaian pengecapan memerlukan waktu sedikit lebih lama, tapi peningkatan tekanan darah cukup cepat,” ucapnya.

Namun, obat tekanan darah dapat menimbulkan banyak efek samping, termasuk batuk, sembelit atau diare, pusing, kurang energi, sakit kepala, nyeri otot, mual, gugup, kelelahan, penambahan atau penurunan berat badan. Biasanya, hal ini akan mereda seiring berjalannya waktu.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement