Selasa 14 Nov 2023 14:22 WIB

Jill Biden akan Dorong Lebih Banyak Penelitian Terhadap Kesehatan Perempuan

AS luncurkan sebuah inisiatif baru White House Initiative on Women’s Health Research.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Friska Yolandha
Presiden AS dan ibu negara Joe Biden dan Jill Biden.
Foto: EPA-EFE/Ting Shen / POOL
Presiden AS dan ibu negara Joe Biden dan Jill Biden.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebih dari setengah populasi di Amerika Serikat saat ini merupakan perempuan. Ironisnya, perempuan masih kurang terwakili dalam berbagai penelitian kesehatan.

Representasi perempuan yang rendah dapat menciptakan gap yang besar dalam penelitian kesehatan. Selain itu, kurangnya representasi perempuan dalam penelitian kesehatan bisa memunculkan konsekuensi serius terhadap kesehatan perempuan.

Baca Juga

Untuk menanggulangi masalah tersebut, Gedung Putih meluncurkan sebuah inisiatif baru bernama White House Initiative on Women’s Health Research. Inisiatif baru ini akan dipimpin oleh ibu negara Amerika Serikat, Jill Biden, serta Konsil Kebijakan Gender Gedung Putih.

"(Inisiatif ini) akan mendorong inovasi dalam kesehatan perempuan dan menutup gap penelitian," jelas Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, seperti dilansir AP pada Selasa (14/11/2023).

 

Sebelum inisiatif ini diluncurkan, Jill mengungkapkan bahwa dia bertemu dengan advokat kesehatan perempuan, Maria Shriver, pada awal 2023. Kepada Jill, Shriver menyoroti pentingnya upaya di dalam dan di luar pemerintah untuk menutup gap penelitian terhadap kesehatan perempuan yang sudah berlangsung lama.

"Ketika saya membicarakan isu ini dengan suami saya, Joe, beberapa bulan lalu, dia mendengarkan. Dia lalu mengambil tindakan. (Inisiatif) inilah yang dia lakukan," ujar Jill.

Shriver dan advokat-advokat kesehatan perempuan lainnya telah menuntut kesetaraan dalam penelitian kesehatan bagi perempuan selama puluhan tahun. Dia menilai, perawatan medis untuk perempuan tidak bisa diberikan secara optimal bila tidak ditunjang dengan penelitian ilmiah.

Shriver menambahkan, perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap sejumlah masalah kesehatan fisik dan mental dibandingkan laki-laki. Sebagai contoh, perempuan berisiko dua kali lebih tinggi terhadap depresi dan kecemasan.

Tak sedikit pula masalah kesehatan yang muncul dan hanya dialami oleh perempuan. Selain itu, saat ini ada jutaan perempuan yang kesulitan untuk menjalani kehidupan sehari-hari karena mengalami keluhan atau efek samping dari menopause.

"Kita tak bisa mengobati atau mencegah mereka jatuh sakit bila kita tidak mendanai penelitian yang dibutuhkan," ujar Shriver. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement