Ahad 05 Nov 2023 15:23 WIB

Heboh Aksi Boikot Israel, Masyarakat Indonesia Hanya FOMO?

Aksi boikot dilakukan terhadap berbagai produk yang berkaitan dengan Israel.

Rep: Novita Intan/ Red: Natalia Endah Hapsari
Konflik Israel dengan Palestina menimbulkan gelombang protes berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu bentuk protes yaitu aksi boikot terhadap  produk Israel/ilustrasi
Foto: Reuters
Konflik Israel dengan Palestina menimbulkan gelombang protes berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu bentuk protes yaitu aksi boikot terhadap produk Israel/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Konflik Israel dengan Palestina menimbulkan gelombang protes berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Adapun salah satu bentuk protes yang dilakukan masyarakat yaitu aksi boikot terhadap berbagai produk yang berkaitan dengan Israel.

Pakar marketing Yuswohady menilai aksi boikot yang dilakukan masyarakat Indonesia hanya bersifat Fear Of Missing Out (FOMO) yang merupakan rasa takut merasa ‘tertinggal’ karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Nantinya setelah terjadi gencatan senjata oleh Israel dan Palestina maka rasa FOMO akan menghilang.

Baca Juga

“Biasanya FOMO jadi saat ramai bisa jadi efektif begitu sudah lewat maka hype lewat dan lupa. Apalagi MCD dan Starbuck brand lama maka ya lewat saja FOMO-nya,” ujarnya ketika dihubungi Republika, Ahad (5/11/2023).

Menurutnya sebuah perusahaan tidak memiliki ideologi tertentu terhadap aksi apa pun seperti Bela Palestina. Hal ini berbeda dengan lembaga politik yang memiliki ideologi tertentu. “Bisnis bukan pemain politik jadi manajemen biasanya tidak punya ideologi tertentu anti Palestina atau Israel. Jadi beberapa minggu ke depan aksi bela Palestina bisa berkurang saya kira nanti dua minggu lagi, maka lupa,” ucapnya.

 

Yuswohady menjelaskan konsumen Indonesia memiliki tiga sifat yang dominan yakni rasionalis, konformis, dan universal. Ketiga sifat tersebut melekat terhadap masyarakat Indonesia, seperti rasionalis yakni kecenderungan melihat rasional misal Israel yang kejam terhadap Palestina maka aksi boikot terjadi), konformis yakni perilaku individu untuk menganut pada acuan norma kelompok, menerima ide atau aturan-aturan yang menunjukkan bagaimana individu tersebut berperilaku, dan universal yakni perilaku konsumen yang melihat sisi kemanusian saja.

“Masyarakat di Indonesia menggunakan Twitter, IG, Facebook (mereka Yahudi) pakai saja, jadi memang saya lihat faktor FOMO, masing-masing konsumen beda, rasionalis, universalis, mereka boikot tapi bukan keislaman, lebih manusia,” ucapnya.

Sebelumnya, muncul media sosial tagar #BDSMovement yang merupakan gerakan untuk memboikot, melakukan divestasi, dan memberikan sanksi kepada Israel. Adapun upaya ini membuat para pengguna akun menyebut merek-merek yang memiliki hubungan dengan Israel dan menyerukan boikot, salah satu yang ramai menjadi sasaran yakni McDonald's setelah sebuah lokasi di Israel menawarkan makanan gratis militer. 

Beberapa di antaranya memboikot Starbucks setelah perusahaan tersebut menggugat serikat pekerjanya pada bulan ini atas akun media sosial serikat pekerja, yang mengunggah dukungan warga Palestina. Dikutip dari VOX, BDS merupakan gerakan protes nonkekerasan global. 

Mereka berupaya menggunakan boikot ekonomi dan budaya terhadap Israel, divestasi keuangan dari negara, dan sanksi pemerintah untuk menekan pemerintah Israel agar mematuhi hukum internasional dan mengakhiri kebijakan kontroversialnya terhadap Palestina. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement