Senin 23 Oct 2023 15:31 WIB

Tidur Kurang dari Enam Jam Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental

Surveo di Jepang menunjukkan 40 persen pekerja tidur kurang dari enam jam per malam.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Friska Yolandha
Aktivitas pekerja Jepang di jam sibuk di salah satu stasiun di Tokyo, Senin (27/4). Sebanyak 45,5 persen orang yang bekerja di Jepang tidur kurang dari enam jam per malam.
Foto: AP Photo/Eugene Hoshiko
Aktivitas pekerja Jepang di jam sibuk di salah satu stasiun di Tokyo, Senin (27/4). Sebanyak 45,5 persen orang yang bekerja di Jepang tidur kurang dari enam jam per malam.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Menurut survei pemerintah terbaru, sebanyak 45,5 persen orang yang bekerja di Jepang tidur kurang dari enam jam per malam. Hasil survei menyebut kondisi ini berdampak negatif pada kesehatan mental.

Sebuah buku putih menganalisis situasi terkini terkait kematian dan bunuh diri yang berhubungan dengan kerja berlebihan. Buku juga mencatat bahwa terdapat 710 kasus kompensasi yang mencapai rekor tertinggi pada tahun fiskal 2022, terkait gangguan mental yang berkaitan dengan kerja berlebihan, yang dapat menyebabkan bunuh diri.

Baca Juga

Dari survei yang melibatkan 10 ribu karyawan, 45,4 persen menyatakan bahwa jumlah tidur ideal adalah antara tujuh hingga delapan jam, sementara 17,1 persen mengatakan lebih dari delapan jam. Buku putih yang telah disetujui oleh kabinet pada 13 Oktober lalu juga melaporkan bahwa 10 persen responden melaporkan tidur kurang dari lima jam per malam, 35,5 persen tidur antara lima hingga enam jam, dan 35,2 persen tidur antara enam hingga tujuh jam.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa 27,4 persen pekerja yang tidur kurang dari empat jam dari jumlah tidur ideal mereka, dan 38,5 persen yang tidur kurang dari lima jam, diduga menderita depresi berat atau gangguan kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang tidur lebih sedikit memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental dan masalah kesehatan, ketika mereka kurang tidur.

 

Sementara sekitar 70 persen dari mereka yang melaporkan mendapatkan jumlah tidur ideal tidak berisiko mengalami depresi atau kecemasan, proporsinya turun drastis menjadi di bawah 40 persen di antara mereka yang tidur tiga hingga lima jam kurang dari jumlah tidur ideal mereka.

"Ada kebutuhan untuk memperbaiki jam kerja yang panjang dan memungkinkan pekerja untuk mendapatkan lebih banyak tidur sehingga mereka dapat menjaga kesehatan mental yang baik," kata seorang pejabat dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan, dilansir Japan Today, Senin (23/10/2023).

Survei ini merupakan tindak lanjut dari temuan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan pada 2021, yang menyatakan bahwa orang-orang di Jepang tidur rata-rata tujuh jam 22 menit, yang merupakan waktu tidur terpendek di antara 33 negara anggota, sedangkan rata-rata waktu tidur di negara-negara tersebut adalah delapan jam 28 menit. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement