Senin 23 Oct 2023 05:35 WIB

Terus-menerus Kurang Tidur Bisa Tingkatkan Risiko Depresi

Akumulasi kurang tidur dapat menjadi awal berkembangnya gejala depresi.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Esthi Maharani
Depresi (ilustrasi)
Foto: www.maxpixel.com
Depresi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Begitu pentingnya manfaat cukup tidur dan memiliki waktu tidur yang berkualitas secara teratur. Lewat sebuah penelitian, para ilmuwan meneliti hubungan antara kualitas tidur yang buruk dan menurunnya kesehatan mental, termasuk peningkatan risiko mengidap depresi.

Dikutip dari laman Mirror, Ahad (22/10/2023), tim peneliti dari UCL Institute of Epidemiology and Health Care mengungkap dampak buruk jika seseorang secara konsisten tidur kurang dari lima jam setiap malam. Akumulasi itu dapat menjadi awal berkembangnya gejala depresi.

Orang-orang dengan kecenderungan genetik yang lebih kuat untuk tidur singkat (kurang dari lima jam dalam semalam) lebih mungkin mengalami gejala depresi selama empat hingga 12 tahun. Tanpa hubungan genetik tersebut, kebiasaan tidur dalam jangka waktu lebih pendek terus-menerus juga lebih mungkin membuat seseorang mengalami depresi.

Penulis utama studi, Odessa Hamilton, menyampaikan bahwa semula dia dan tim hendak mengungkap, mana yang lebih dahulu antara durasi tidur suboptimal dan depresi. "Kami memutuskan bahwa kurang tidur kemungkinan besar mendahului gejala depresi, bukan sebaliknya," kata Hamilton.

 

Para peneliti menggunakan data genetik dan kesehatan dari 7.146 orang yang direkrut oleh English Longitudinal Study of Aging (ELSA), dengan usia rata-rata 65 tahun. Analisis data genetik dan kesehatan menunjukkan bahwa tidur pendek dikaitkan dengan timbulnya gejala depresi, seperti perasaan sedih atau kesepian.

Orang-orang yang menjadi peserta dalam penelitian ini rata-rata tidur tujuh jam setiap malam. Lebih dari 10 persen tidur kurang dari lima jam setiap malam pada awal masa penelitian, dan meningkat menjadi lebih dari 15 persen pada akhir penelitian.  

Proporsi orang yang digolongkan memiliki gejala depresi meningkat sekitar tiga poin persentase, dari 8,75 persen menjadi 11,47 persen. Dalam studi tersebut, data tentang tidur dan gejala depresi digabungkan dari dua survei Elsa yang dilakukan dalam jarak dua tahun, karena durasi tidur dan depresi berfluktuasi seiring waktu.  

Penulis senior studi dari Institut Epidemiologi dan Perawatan Kesehatan UCL, Olesya Ajnakina, menyebut hasil studi itu bisa jadi dasar penting untuk penyelidikan di kemudian hari mengenai titik temu antara genetika, tidur, dan gejala depresi. Temuan riset sudah dipublikasikan di Nature, Translational Psychiatry.

"Durasi tidur yang pendek dan panjang, bersamaan dengan depresi, merupakan kontributor utama terhadap beban kesehatan masyarakat. Skor poligenik, yang merupakan indeks kecenderungan genetik seseorang terhadap suatu sifat, dianggap sebagai kunci untuk mulai memahami sifat durasi tidur dan gejala depresi," tutur Ajnakina.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement