Selasa 03 Oct 2023 06:47 WIB

Teman Disabilitas Ikut Uji Coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ini Masukan dari Mereka

Angkie Yudistia ajak teman dIsabilitas uji coba kereta cepat Jakarta-Bandung.

Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia mencoba kereta cepat bersama teman disabilitas pada Sabtu (30/9/2023).
Foto: Dok. Istimewa
Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia mencoba kereta cepat bersama teman disabilitas pada Sabtu (30/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia turut serta dalam uji coba kereta cepat Jakarta-Bandung yang dilakukan pada Sabtu (30/12/2023). Dalam uji coba kali ini, Angkie hadir bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari Komite Pendidikan dan Budaya, serta Dirjen Perkeretaapiaan Kementerian Perhubungan M Risal Wasal. Selain itu, uji coba kereta cepat kali ini, Angkie mengajak teman-teman disabilitas.

Menurut Angkir, kehadiran mereka sangat berarti karena dapat memperhatikan akses pada kereta cepat terutama bagi penyandang disabilitas. Angkie juga mengapresiasi fasilitas yang telah tersedia bagi disabilitas. Meski begitu, dirinya berharap dengan akses yang tersedia bisa menunjang dan mempermudah para disabilitas untuk memakai transportasi kereta cepat tersebut. 

Baca Juga

"Kemarin kami sudah mencoba kereta cepat dari Jakarta-Bandung, lalu Bandung-Jakarta. Waktunya sangat cepat, hanya 40 menit, pergi 40 menit, pulang juga sama, jadi bisa mempersingkat waktu jika kita akan pergi kesana. Selain itu banyak juga masukan-masukan dari teman-teman disabilitas yang ikut naik kereta cepat, setelah merasakannya secara langsung," kata Angkie kepada wartawan, pada akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, dari teman disabilitas tuli ada masukan terkait visual yang perlu ditambahkan. Selain itu, Angkie menyampaikan bahwa perlu adanya karyawan yang memiliki kemampuan dalam berbahasa isyarat.

"Jadi ada beberapa masukan, seperti dari Teman Tuli yang ikut bernama Jennifer, dia bilang visualnya kurang banyak, lalu papan arah juga kurang banyak, harusnya mungkin bisa ditambah lagi untuk fasilitas tersebut agar bisa membantu Teman Tuli. Kemudian Jennifer bilang untuk karyawan perlu bisa berbahasa isyarat. Dari fasilitas juga di toilet, tidak ada lampu panggilan di dalam," jelas Angkie dalam keterangan tertulisnya.

Selain masukan dari Teman Tuli, Angkie juga menyampaikan masukan-masukan lain dari disabilitas daksa dan netra.

"Lalu ada juga masukan dari teman daksa bernama Sasa, untuk akses masuk kursi roda. Masih susah, jadi perlu kursi roda khusus seperti di pesawat. Karena kemarin mencoba kursi yang Sasa pakai itu, tidak bisa masuk, jadi sulit. Selain itu juga tidak ada ramp untuk masuk gerbong, Sasa menyampaikan kemarin sign untuk difabel tidak ada, seperti di parkiran, di gerbong. Terlebih petugas disanapun belum aware tentang difabel," kata Angkie.

Menurut Angkie masukan-masukan itu diharapkan bisa menjadi perbaikan dan bisa memudahkan para disabilitas yang menggunakan transportasi kereta cepat. Dia mengatakan, ada juga masukan dari teman netra low vision bernama Dian. Seperti warna yang tertera pada papan pengumuman, masukannya warna papan katanya kurang kontras, lalu tulisan papan di boarding, kurang besar dan tebal.

Selain itu dia menilai perlu adanya cross block untuk stop dan berbelok. Karena menurut Dian sepanjang percobaan kemarin tidak ada. "Mungkin itu yang bisa diperhatikan oleh pihak terkait agar kedepan teman-teman disabilitas bisa lebih mudah," ujar Angkie. Dirinya berharap, ke depan masukan-masukan dari teman-teman disabilitas yang telah mencoba langsung kereta cepat, bisa segera terealisasi dan lebih memudahkan para disabilitas kedepannya yang menggunakan transportasi umum, terutama kereta cepat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement