Sabtu 25 Jun 2022 03:30 WIB

Bahaya Obat Tidur, Ketergantungan hingga Overdosis

Ahli meminta obat tidur tidak digunakan sebagai alternatif penanganan sulit tidur

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Ahli sleep disorders dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Wardah Rahmatul Islamiyah mengingatkan, obat tidur sebaiknya tidak dijadikan opsi alternatif untuk menangani sulit tidur. Alasannya karena efek ketergantungan akibat obat tidur
Foto: Livestrong
Ahli sleep disorders dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Wardah Rahmatul Islamiyah mengingatkan, obat tidur sebaiknya tidak dijadikan opsi alternatif untuk menangani sulit tidur. Alasannya karena efek ketergantungan akibat obat tidur

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ahli sleep disorders dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Wardah Rahmatul Islamiyah mengingatkan, obat tidur sebaiknya tidak dijadikan opsi alternatif untuk menangani sulit tidur.

Ia menjelaskan, obat tidur seperti CTM hanya menyebabkan kantuk, namun tidak membuat tidur menjadi lelap. Bahkan cenderung membuat tidak nyaman dan menyebabkan kantuk berkepanjangan, sehingga tidak baik untuk dikonsumsi.

“Efek sampingnya akan menyebabkan ketergantungan. Awalnya efeknya bagus, lewat dua minggu ga berefek, sehingga berpikir kok ga mempan. Kemudian cenderung meningkatkan dosis, hingga berkemungkinan overdosis,” kata Wardah, Jumat (24/6).

Wardah mengungkapkan, dalam beberapa kondisi, dokter memang memberikan obat tidur berupa hormon melatonin eksogen untuk membantu pasien yang kesulitan tidur. Namun, penggunaan obat tersebut juga dibatasi. Penggunaannya tidak lebih dari dua minggu, karena dapat berisiko menghentikan produksi melatonin secara alami.

Wardah menjelaskan, tidur berkualitas bergantung pada kuantitas waktunya. Umur yang berbeda memiliki kebutuhan waktu tidur yang berbeda pula. Ia menconyohkan untuk anak-anak yang kebutuhan tidurnya sekitar 10 jam. Kemudian remaja 8 jam, dewasa 6 jam, dan lansia hanya butuh 4 hingga 6 jam.

"Tidur melebihi jam itu biasanya tidak bisa, yang ada tidurnya tidak berkualitas,” kata Wardah.

Wardah mengungkapkan, olahraga dan beraktivitas di pagi hingga siang hari dapat membantu tidur menjadi berkualitas. Dimana keadaan tubuh yang lelah sehabis beraktivitas, membuat tidur menjadi lebih lelap.

Berdasarkan ilmu kedokteran, tidur berkualitas ialah tidur yang mencapai stadium tiga atau deep sleep, yang membutuhkan waktu 1,5 jam dari saat terlelap. Pada kondisi tersebut, manusia tidak mudah dibangunkan. Perilaku sleep hygine atau prosesi menjelang tidur dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mendapatkan kondisi tersebut

“Terapkan makan berat maksimal dua jam sebelum tidur. Supaya organ cerna kita kerjanya tidak terlalu berat,” ujarnya.

Ia juga menyarankan untuk berolahraga tidak lebih dari empat jam sebelum tidur, sehingga hormon kortisol tidak tinggi saat akan tidur. Selain itu, menciptakan situasi dan ruangan yang nyaman sebelum tidur juga penting dilakukan. Misalnya, mematikan lampu atau meredupkan lampu dari biasanya.

“Tidur itu rasanya adalah hal sederhana, orang sering menyepelekan. Namun, sesuatu yang sederhana itu jika tidak kita jaga dapat menimbulkan banyak penyakit. Maka pola tidur yang salah ini butuh kepedulian,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement