Kamis 15 Jul 2021 21:12 WIB

WHO: Kematian Mingguan Covid-19 di Afrika Naik 43 Persen

Lonjakan kasus Covid-19 di Afrika menjadi salah satu yang tercepat di dunia.

Kematian akibat Covid-19 yang terjadi di Afrika naik 43 persen pekan ini dibandingkan dengan pekan lalu di tengah lonjakan pada kasus infeksi dan orang yang harus dirawat di rumah sakit (ilustrasi).
Foto: Republika
Kematian akibat Covid-19 yang terjadi di Afrika naik 43 persen pekan ini dibandingkan dengan pekan lalu di tengah lonjakan pada kasus infeksi dan orang yang harus dirawat di rumah sakit (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, DAKAR -- Kematian akibat Covid-19 yang terjadi di Afrika naik 43 persen pekan ini dibandingkan dengan pekan lalu di tengah lonjakan pada kasus infeksi dan orang yang harus dirawat di rumah sakit. Kenaikan angka kematian juga terjadi ketika negara-negara di kawasan itu sedang menghadapi kekurangan pasokan oksigen dan tempat tidur perawatan intensif.

WHO mengatakan, tingkat kematian Covid-19 di Afrika (proporsi kematian di antara kasus yang dikonfirmasi) saat ini tercatat 2,6 persen. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata global, yakni 2,2 persen.

"Kematian telah meningkat tajam selama lima pekan terakhir. Ini merupakan peringatan yang jelas bahwa rumah sakit di negara-negara yang paling terkena dampak sedang mencapai titik puncak," kata Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika, melalui pernyataannya, Kamis (15/7).

Organisasi itu menyebutkan, kasus Covid-19 di benua Afrika telah meningkat selama delapan pekan berturut-turut hingga mencapai enam juta pada 13 Juli 2021. Lonjakan itu, menurut WHO, didorong oleh kelelahan publik terhadap aturan-aturan penting kesehatan yang diterapkan untuk membatasi penyebaran virus. 

Lonjakan juga disebabkan oleh peningkatan penyebaran varian-varian virus. WHO mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 di Afrika telah menjadi salah satu yang tercepat di dunia ketika benua itu membukukan tambahan satu juta kasus selama sebulan terakhir ini.

"Ini merupakan waktu tersingkat sejauh ini menyangkut penambahan satu juta kasus. Sebagai perbandingan, sebelumnya perlu waktu sekitar tiga bulan untuk berpindah dari empat juta menjadi lima juta kasus pada pertengahan Juni," bunyi pernyataan itu.

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement