Ahad 23 Aug 2020 08:30 WIB

Stres dan Amarah Perburuk Kesehatan Pasien Gagal Jantung

Stres mental meningkatkan frekuensi munculnya masalah medis dan perawatan di RS.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Friska Yolandha
Stres. Ilustrasi. Pasien dengan riwayat gagal jantung sebaiknya menjaga diri untuk tetap tenang. Stres dan kemarahan dapat memperburuk kondisi kondisi pasien gagal jantung
Foto: Dailymail
Stres. Ilustrasi. Pasien dengan riwayat gagal jantung sebaiknya menjaga diri untuk tetap tenang. Stres dan kemarahan dapat memperburuk kondisi kondisi pasien gagal jantung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasien dengan riwayat gagal jantung sebaiknya menjaga diri untuk tetap tenang. Stres dan kemarahan dapat memperburuk kondisi kondisi pasien gagal jantung

Hal ini terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Yale University. Studi ini melibatkan 24 pasien gagal jantung. Para pasien diminta untuk mengisi kuesioner harian selama satu minggu mengenai rasa stres, kemarahan, dan emosi negatif lain yang dirasakan.

Baca Juga

Para pasien juga menjalani tes stres mental di mana mereka diminta untuk mengerjakan soal matematika. Setelah itu, pasien diminta untuk menjelaskan pengalaman stres yang dirasakan saat mengerjakan soal tersebut. Para pasien juga menjalani pemeriksaan dengan ekokardiogram untuk mengukur fungsi jantung diastolik di saat istirahat dan saat stres.

Fungsi diastolik merupakan kemampuan jantung untuk relaksasi dan mengisi darah kembali di sela-sela denyutan. Pasien yang merasa marah cenderng memiliki tekanan diastolik istirahat yang lebih buruk.

Tim peneliti juga mendapati bahwa stres mental dapat secara progresif memperburuk kondisi pasien gagal jantung. Selain itu, stres mental juga dapat meningkatkan frekuensi munculnya masalah medis dan frekuensi perawatan di rumah sakit.

"Kami memiliki bukti bahwa pasien dengan peningkatan stres yang kronis mengalami lebih banyak perjalanan penyakit yang memberatkan dengan penurunan kualitas hidup," jelas ketua tim peneliti Kristie Harris, seperti dilansir WebMD.

Ironisnya, stres mental merupakan masalah yang umum ditemui pada pasien gagal jantung. Stres ini biasanya muncul akibat kompleksitas pengelolaan penyakit yang harus dijalani oleh pasien gagal jantung dalam keseharian.

Harris menilai temuan baru ini menunjukkan adanya hubungan yang relevan antara perilaku dan fisiologis pasien gagal jantung. Hal ini penting diperhatikan, khususnya di masa pandemi Covid-19, di mana ada banyak hal yang dapat memicu stres.

"Faktor-faktor seperti stres mental dan kemarahan sering tak disadari dan kurang diperhatikan," tambah peneliti lain Matthew Burg.

Burg mengatakan studi ini menunjukkan bahwa stres dan kemarahan dapat mempengaruhi kondisi klinis akhir pasien dengan penyakit jantung. Selain gagal jantung, Burg juga menyebut penyakit jantung lain seperti penyakit jantung iskemik dan aritmia.

Burg menilai studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan kerentanan stres pada gagal jantung. Studi terbaru ini telah dimuat secara daring dalam Journal of Cardiac Failure.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement